Secara bahasa, Al Karim mempunyai arti apa Maha Mulia, apa Maha Dermawan atau apa Maha Pemurah. Secara istilah, al-karim diartikan bahwa allah SWT apa Maha Mulia another Maha Pemurah yang memberi anugrah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Anda sedang menonton: Pengertian asmaul husna al karim


Dapat pula dimaknai kemudian Zat apa sangat crowd memiliki kebaikan, Maha Pemurah, pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak. Bab tersebut pantas dengan firmanya :


Al Karim ialah Dzat apa banyak memberi dan berbuat baik tanpa diminta. Berbeda dengan As-Sakhiy (dermawan) yang suka memberi untuk diminta.

Ada pendapat go mengatakan, bahwa Al-Karim artinya ialah jika mampu membalas, ia justru memaafkan; jika berjanji, ia menepati; dan jika memberi, ia melebihi apa yang diharapkan, noel peduli berapa kawanan ia memberi dan kepada siapa ia memberi.
Jika meningkatkan kebutuhan kepada selainnya, ia noël rela. Dia noel menyia-nyiakan orang yang berlindung atau menyerahkan diri kepadanya, dan dicukupkannya rakyat itu dari mengangkut dan pertahanan lain. Noel ada apa memiliki sifat-sifat ini selain Allah SWT.
Al-Azhari rahimahullah mengartikannya dengan: ” al-Karîm deviasi satu dari sifat Allah Azza wa Jalla dan nama-Nya. Maknanya, yaitu dzat apa sangat crowd memiliki kebaikan, amat pemurah, pemberi nikmat dan keutamaan”.
al-Karîm adalah nama belakang yang mencakup segala sifat yang terpuji. Allah Azza wa Jalla adalah al-Karîm (Maha Mulia) amat pujian segala perpuatan-Nya.
Ibnu Manzhûr rahimahullah menjelaskan: ” al-Karîm deviasi satu dari sifat Allah Azza wa Jalla dan nama-Nya. Yakni dzat yang amat kawanan memiliki kebaikan, amat pemurah another pemberi. Pemberian-Nya tidak pernah habis. Dia-lah Dzat apa Maha Mulia secara mutlak.
al-Karîm adalah namu mencakup segala kebaikan, glory dan keutamaan. Nama belakang ini juga menghimpun segala hal yang terpuji. Allah Azza wa Jalla mempunyai nama belakang al-Karîm (Maha Mulia) artinya amat terpuji di dalam segala perpuatan-Nya, Rabb yang memiliki ‘Arsy yang mulia lagi agung”.
Jika kita mencermati namu al-Karîm di dalam al-Qur’ân, nama belakang Allah Azza wa Jalla yang mulia ini terulang sebanyak dua kali. Pertama, dalam surat an-Naml/27:40:
فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Maka kapan Sulaiman pemandangan singgasana itu tersoroh di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Rabbku buat menvolumepillsworld.comba aku apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (akan nikmat Nya).
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya itu bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sebetulnya Rabbku Maha empire lagi Maha Mulia”.
“Hai manusia, maafkan saya yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu yang Maha Pemurah”. Pada ayat surat an Naml di atas, Allah Azza wa Jalla menceritakan sekitar perkataan Nabi Sulaiman Alaihissalam saat beliau menyaksikan wujud istana pemeliharaan Balqis di hadapannya.
Pemberian Allah Azza wa Jalla tersebut dinilai malalui Nabi Sulaiman guna tes rasa syukurnya pada Allah Azza wa Jalla overhead segala nikmat apa diberikan kepadanya. Lalu, ayat ini ditutup menjangkau dua nama Allah Azza wa Jalla yang mulia al-Ghani (Maha Kaya) dan al-Karîm (Maha Mulia).
Kedua nama ini mendesak erat mencapai konteks mulai ayat tersebut. Siapa saja apa mau bersyukur, postur tersebut noel akan menambah wealth Allah Azza wa Jalla untuk Allah Maha Kaya. Sebaliknya, barangsiapa yang noël mau bersyukur noël akan mengurangi properti Allah Azza wa Jalla.
Demikian pula, barangsiapa yang bersyukur menjadi mendapat balasan dari al-Karîm (Yang Maha Pemurah) balasan yang berlipat ganda. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Allah Azza wa jalla dengan tegas senantiasa memberi rezeki bagi mereka. Bab ini sebagai termaktub batin firman Allah:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sebetulnya Allah Maha kaya darimu (tidak memerlukanmu) dan Dia noël meridhai kekafiran bagi para hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya itu meridhai kesyukuran menemani itu bagimu”
Barangsiapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa mengingkai (tidak bersyukur), sebetulnya Allah Azza wa Jalla Maha kerajaan lagi Maha Mulia. Allah Azza wa Jalla memberi bukan buat membutuhkan alam tapi buat Allah Azza wa Jalla mempunyai namu al-Karîm (Maha Pemurah).
Adapun pada ayat surat al Infithâr, Allah Azza wa Jalla tanya kepada manusia, apa yang produksi mereka teperdaya buat selalu berbuat durhaka kepada Allah Azza wa Jalla. Padahal, Allah Azza wa Jalla selalu mencurahkan berbagai nikmat dan rahmat bagi mereka. Untuk Allah bersifat Maha Pemurah terhadap seluruh manusia. Tidaklah pantas human berlaku demikian, untuk Allah al-Karîm (pemurah) terhadap mereka.
Al Karîm adalah yang mulia batin segala hal, yang amat banyak pemberian dan kebaikannya, baik kapan diminta maupun tidak. Nama al-Karîm menunjukkan kesempurnaan popularitas Allah Azza wa Jalla batin zat dan segala sifat serta perbuatan-Nya:
Nya. Noel ada kekurangan sedikit pun di dalam dzat Allah Azza wa Jalla. Sesungguh berutang dzat Allah Maha Indah.
Nya. Noël ada sifat jelek pun di ~ Allah. Pada kenyataannya sifat-sifat Allah amat sempurna dalam segala maknanya.
Tidak ada cacat batin perbuatan Allah Azza wa Jalla. Sebenarnya segala perbuatan Allah Azza wa Jalla penuh dengan berbagai hikmah yang luas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nama Allah al Karîm mencakup makna kedermawanan, also makna kemuliaan dan keluhuran, serta bermakna grasi dan memberi kebaikan”.

Lihat lainnya: Bagaimana Cara Membuat Resep Cake Pisang Tanpa Mixer Yang Sederhana


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Secara global, makna al Karîm adalah dzat yang suka memberi kebaikan apa banyak dengan amat mudah dan gampang. Lawannya, setiap orang pelit yang amat sulit dan langka mengeluarkan kebaikan”
Diantara makna al Karîm, Allah Azza wa Jalla berbuat baik kepada seluruh makhluk tanpa sebuah kewajiban yang mesti mereka kerjakan. Semua kebaikan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada alam adalah semata-mata atas kemurahan-Nya kepada para makhluk.
Kemudian, kemudian (cermin) sifat karom-Nya, Allah Azza wa Jalla pengampunan sesuatu hak yang wajib diserahkan kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla ampun dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan tanggung jawab kepada Allah. Untuk nama Allah al Karîm beriringan dengan nama Allah al-‘Afuww (Maha pemberi Maaf), sebagai tertuang batin sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha , ia berkata: “Wahai Rasulullah, maafkan saya pendapatmu jika seandainya aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: miliki Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf lainnya Maha Mulia, Engkau mencintai sifat pemaaf, maka ampunilah aku”.

*
*
Al Wadud Artinya