Peristiwa pahit tak harus melulu omong mengenai kepedihan, penderitaan, tangis, atau duka. Jika itupenggunaan mau dan mampu, sanggup saja peristiwa menyedihkan itu dibungkus canda pemilihan dan lelucon konyol agar mengurangi rasa pahit yang muncul. Memang noël mudah, tetapi kemudian itulah Roberto Benigni making sebuah kematian luar biasa di dalam La Vita è Bella (Life is Beautiful) (1997). Bagi saya, film ini benar-benar jenius dalam mendampingkan dua halaman kontradiktif, antara komedi dengan sejarah memilukan. Eksperimen tersebut ternyata membuahkan hasil apa sempurna, sebuah kematian tentang bagaimana humor dapat mengatasi masalah, bahkan prahara.


Anda sedang menonton: La vita e bella perche adesso artinya

Film ini terbagi di dalam dua babak. Pada babak pertama apa berlatar Italia pra-perang world II, dikisahkan Guido Orefice (Benigni) mengunjungi Eliseo (Giustino Durano), pamannya apa telah puluhan tahun menjadi terutama pelayan sebuah hotel mewah untuk membantunya menjadi pelayan di hotel tersebut. Guido adalah seorang Yahudi yang full dengan kekonyolan sekaligus berkharisma. Selama berada di kota sang paman, ia bertemu Dora (Nicoletta Braschi) seorang guru sekolah dipum yang vip dan sedang di dalam proses perjodohan menjangkau seorang birokrat. Sejak temu pertamanya mencapai Dora, ia langsung bang cinta dan berusaha buat terus mendekatinya, tentu dengan berjuta lelucon apa dimilikinya.
*

Pada bagian pertama film ini, penonton seperti sedang menyaksikan aksi komedian legendaris Charlie Chaplin. Benigni yang juga duduk di deets sutradara sangat mumpuni membawakan figure Guido apa digambarkan always memiliki banyak ide, cerdik merayu, dan pantang menyerah. Celotehan dan aksi inferioritas Guido terasa baru dan tak henti-hentinya mengocok perut penonton. Bahkan, dalam beberapa kesempatan Guido dapat menciptakan lelucon dari filsuf seperti Schopenhauer yang tentu saja menambah kekonyolan aksinya. Di atas bagian ini pula penonton dapat melihat koknya gambaran Italia pra-perang dunia II, koknya pengaruh Nazi dewa mulai bersinar dengan diagungkannya ras Arya serta poster-poster pemimpin nazi dan Nazi di dinding bangunan-bangunan kota. Memang, sepertinya Benigni mau menyamarkan detil suasana demikian pada bagian pertama dan lebih berkonsentrasi pada penonton pada kelucuan Guido. Namun, diatas dasarnya detil menyertainya telah disiapkan dengan cecaire dan dulu berlawanan selama penonton menyadari bahwa Guido yang seorang Yahudi masih sempat bertingkah laku inferioritas di tengah propaganda anti-Yahudi masa itu.
Bagian duluan tersebut unjuk bahwa hidup memang terasa indah bagi Guido. Berbagai mengganggu memang kerap muncul kemudian perbedaan religius antara dirinya mencapai Dora, perbedaan kelas sosian antara dirinya dan Dora, dan hubungan Guido dengan Dora apa tak pernah direstui medang Dora. Namunm, dengan trấn yang baik, pergerakan keras, dan pantang menyerah (plus tons of prayers if you"re believer), Guido demo pada kita bahwa human dapat tercapai apapun yang diinginkannya. Kehidupan Guido dulu tampak semakin sempurna berkat antusiasmenya yang tak berbatas, optimisme apa menginspirasi people lain, dan menikmati hari-hari dalam kehidupan bahagianya.
*

Babak detik dimulai selama Guido mensukseskannya meminang Dora menjadi istrinya dan mereka memiliki seorang anak apa lucu dan cerdas, Giosué (Giorgio Cantarini). Kebahagiaan keluarga just dirasakan sebentar oleh Guido hingga pada suatu hari pasukan Nazi menciduk dirinya dan Giosué dan mengirim mereka setelah kamp konsentrasi spesialisasi Yahudi. Di sinilah saga getir Guido dimulai. Sebagai seorang ayah, what yang harus dijelaskannya diatas anaknya yang masih kecil? Giosué masih terlalu hijau karena mengetahui bahwa dunia ini kejam, licik, berbahaya, bahkan manusia dapat menyerang reksa demi kepentingan sepihak. Ia masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa tak semua orang luaran sifat sama such ayahnya apa lucu dan baik hati.
Beruntunglah ide konyol Guido tak hilang batin keadaan gawat tersebut. Mencapai pahit dan sedih apa disembunyikan rapat-rapat di balik relung jiwanya, Guido menciptakan sebuah cerita tentang bermain menarik di ~ Giosué, dan berkata bahwa mereka harus bertarung hingga menjadi pemenang. Action paksa, teriakan, kamar gas, tembakan were akrab di telinga Guido, namun ia tak rela anaknya tambahan ikut merasakan hal demikian, maka ia always mengajarkan Giosué buat bersembunyi. Scammers anak dan istrinya selalu dulu motivasi bagi Guido buat tidak putus asa dan berhenti berusaha mencari cara luput dari kamp konsentrasi. Cerita palsu yang ia kisahkan pun, merupakan pelarian trần dan pikirannya agar firmicutes semnagat menjalani kehidupan, untuk masih ada anak dan istrinya apa menunggu diselamatkan.
*



Lihat lainnya: Berita Dan Info Tol Pejagan Pemalang Hari Ini, Berita Tol Pejagan

Pada bagian kedua, penonton akan mendapati dirinya trenyuh melihat perjuangan dan pengorbanan Guido karena menyelamatkan anaknya. Bahkan di sini mungkin penonton noël lagi dapat tertawa mendengarkan lelucon Guido, melainkan mentikkan waiting mata, sebab di jepit semua humor menyertainya terdapat perasaan tidak dan kerapuhan seorang ayah buat melindungi anaknya. Namun, mencapai kelucuan itulah finite Giosué dapat mengenang pengorbanan ayahnya. Penonton pun dapat mengabadikan hikmah bahwa batin situasi maafkan saya pun, melindungi people terkasih adalah sesuatu apa menyenangkan. Guido contohnya, ia dengan tegas bisa membuat orang lain tertawa bahkan hingga di atas hayatnya. Melakukan segala upaya demi orang-orang yang kita cintai menjadi membahagiakan jiwa, kelewat jika itupenggunaan mengetahui maafkan saya akibatnya. It"s 5 out of 5 stars for me. Ada yang punya komentar?